Sepulang dari kota, Bude meminta saya
mengantarkannya ke Pasar Tradisional Mangaran. Siang itu, saya mendampingi
beliau masuk ke dalam pasar yang berada di sebelah timur persimpangan jalan.
Bude sibuk mencari bahan kebutuhan pokok dan peralatan dapur, sedangkan saya
hanya mengamati dagangan yang tertata rapi. Ini adalah pertama kalinya saya
benar-benar masuk ke pasar tersebut. Sebelumnya saya hanya sering melewatinya.
“Bude,
pasar ini bukanya jam berapa?”
“Setelah
subuh, di sini sudah ramai.”
“Tutupnya
kapan?”
“Nanti
sore.”
Salah
satu komoditas yang paling banyak dijumpai di pasar ini adalah pisang. Jika
kalian mencari berbagai jenis pisang di wilayah utara Kabupaten Situbondo,
Pasar Mangaran bisa menjadi salah satu tujuan.
Pasar
ini menjadi pusat perdagangan berbagai kebutuhan pokok, terutama sayur-mayur,
lauk-pauk, rempah-rempah, buah-buahan, serta aneka peralatan dapur. Mayoritas
komoditas tersebut berasal dari hasil pertanian masyarakat sekitar Kecamatan
Mangaran dan daerah sekitarnya. Hasil panen para petani dipasarkan di sini,
kemudian dibeli oleh pedagang maupun masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Siklus ini menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
Petani memperoleh tempat untuk menjual hasil panennya, pedagang mendapatkan
barang dagangan yang segar, sementara pembeli memperoleh kebutuhan pokok dengan
harga yang relatif terjangkau.
Saya
sebenarnya agak malu untuk mengamati lebih detail. Banyak ibu-ibu yang sesekali
memperhatikan saya. Semoga di lain kesempatan saya bisa berkeliling lebih
leluasa.
Harapannya,
Pasar Tradisional Mangaran terus berkembang sehingga mampu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sekitar. Selain menjadi pusat kegiatan ekonomi, pasar
tradisional juga memiliki peran penting sebagai ruang interaksi sosial yang
mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menjaga perputaran ekonomi lokal
agar tetap hidup.
Di
sinilah berbagai aktivitas ekonomi masyarakat berlangsung. Bukan tempat
bergosip, lho, ya!

