Cerpen - Kebun Petir

 


Tak ada yang memperhatikan bahwa sambaran petir di Kabupaten Situbondo selama Januari sangat minim, hanya sembilan kali sambaran. Padahal, ramalan cuaca di gawai kerap menampilkan tanda petir. Berbeda dengan bulan sebelumnya tercatat mancapai seribu lebih sambaran.

Awal tahun ini mengalami penurunan yang signifikan, kata Aleksandra dari BMKG dalam sebuah koral lokal. Dalam berita itu, Aleksandra merasa ada yang janggal dengan fenomena bulan ini. Meskipun begitu, Pak Aleksandra tetap mengingatkan masyarakat Situbondo untuk tetap waspada. Jika berada di luar ruangan, ia menyarankan segera masuk ke ruangan apabila mendengar guntur. Ia terkenang peristiwa dua tahun lalu, sambaran petir memakan korban: manusia, hewan ternak, pohon kelapa, bahkan tiang listrik di dekat jembatan macam.

Itulah sekelumit informasi seputar petir dan guntur yang hanya ada di media koran lokal yang masih bertahan di era digital.

***

Tak jauh dari pusat kabupaten sebelah barat, konon ada sebuah kebun petir di Kawasan Gunug Ringgit atau juga dikenal dengan Gunung Putri Tidur. Keberadaan kebun itu sering diceritakan turun-temurun oleh warga sekitar, meskipun tidak pernah ada yang berhasil menemukannya. Kebun yang kasat mata, katanya. Keberadaannya memang tidak ada yang bisa membuktikan.

Namun, seorang pendaki gunung yang pernah mendengar cerita itu sampai juga di tempat itu.  Pendaki itu baru saja terbangun dari tidur, beralaskan tikar daun pandan, di atas lincak yang terbuat dari bambu. Kepalanya terasa pusing. Tangannya memegang kepala yang terbalut perban. Ia mengingat, terakhir ia terpeleset dan tubuhnya berguling ketika hampir mencapai tanah lapang sebelum puncak gunung.

Matanya mengamati sekeliling, lalu memejam sembari bergeleng-geleng dengan cepat seolah memastikan apakah yang dilihatnya nyata. Pandangannya kemudian tertuju pada sosok di antara tanaman yang memancarkan kilatan. Ia merasa sosok itulah yang menyelamatkannya. Dengan tenaga yang tersisa, ia melangkah, menghampiri sosok itu. Barangkali ia bisa mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mulai memenuhi pikirannya.

“Ini di mana, Kek?” tanya si pendaki. Ia mendongak, terperangah melihat gumpalan awan melayang rendah. Rasanya jika melompat. ia bisa menggapainya.

“Panggil saja, Mbah Saydi,” jawab sosok itu, menghentikan aktivitasnya.”

“Apakah ini tanaman petir, Kek?”

“Panggil saja, Mbah Saydi.”

“Oh baik, Mbah. Ada apa dengan tanaman ini, kok mengepulkan asap?”

“Duduklah di sana! Aku mau istirahat sejenak. Bagaimana dengan kepalamu?”

“Sudah mendingan, terima kasih.”

Mereka berdua berjalan menuju beranda rumah yang terbuat dari kayu. Si pendaki sempat berspekulasi, bahwa Mbah Saydi mungkin keturunan Zeus, sebagaimana dalam film-film. Atau keturunan Raiden dalam game Mortal Kombat. Tapi ia urungkan niatnya untuk bertanya. Mungkin waktunya kurang tepat. Si pendaki menduga bahwa ia berada di kebun petir, yang dulu pernah didengar dari cerita masyarakat.

Mbah Saydi masuk ke rumah, kemudian kembali ke beranda membawa makanan: ubi, kacang rebus dan air dalam ceret.

“Silakan, perutmu pasti belum terisi.”

“Terima kasih.”

“Kemarin sore, aku menemukanmu dalam keadaan terlentang, tak sadarkan diri,” kata Mbah Saydi sembari menunjuk arah pintu pagar.

“Apa benar ini kebun petir, Mbah?” kata si pendaki untuk memastikan rasa penasarannya.

“Ya, tapi tanaman itu banyak yang gagal panen, pecah sebelum waktunya. Sebagian lagi membusuk.”

Terdengar suara sert,sert, disusul kilatan kecil yang menghubungkan tanaman satu dengan yang lain, lama lalu hilang di antara dedaunan, berwana keperakan. Si pendaki itu mengamati hamparan kebun penuh rasa heran.

“Aku kekurangan tenaga, sehingga tak cukup waktu untuk merawat semuanya.”

“Untuk apa tanaman petir ini, Mbah?

“Tentu saja dikirim ke alamat derasnya hujan.”

“Melalui awan itu?” sambil menunjuk awan kelabu yang melayang-layang.

“Ya.”

“Bukankah itu berbahaya, Mbah?”

“Aku hanya menjalankan tugas.”

Di halaman beranda pendaki itu melihat benih-benih yang sudah siap untuk ditanaman. Seperti biji kacang berwarna-warni, di sebelahnya terdapat beberapa peralatan untuk bercocok tanam.

“Tanaman di pojok sana kok beda warna, Mbah?” tanya lagi, sambil menikmati kudapan.

“Itu tempat uji coba.”

“Maksudnya, Mbah?”

“Itu benih petir berwarna warni. Kali ini, aku lebih fokus merawat percobaan tanaman ini. Itu sebabnya tanaman yang lain tidak terawat. Benih ini sangat berbeda, ketika menyatu bersama awan suara yang dihasilkan petir tidak lagi menggelegar tapi bisa menenangkan dan menghasilkan nada seperti melodi.

“Apa berhasil?”

“Belum, tapi aku akan terus mencobanya. Sepertinya butuh pupuk.

“Sampai kapan menguji tanaman ini?”

“Sampai orang-orang di bawah tidak takut atau kaget mendengar suara petir dan tidak membahayakan.”

Si pendaki itu pun teringat anak kecilnya yang selalu ketakutan mendengar suara guntur dan petir.

“Ayaaah, aku tahhut,” ucap anak kecil si pendaki yang belum sempurna mengucap kata. Ia berlari memeluk si pendaki setelah mendengar gemuruh guntur. Tiba-tiba ia rindu keluarga kecilnya.

“Jika tidak keberatan, bantu aku menuntaskan tanaman ini.”

Si pendaki terdiam beberapa saat seperti menimbang sebuah keputusan. Terlebih ia merasa bersalah dengan membuat khawatir keluarga kecilnya lantaran tidak cepat pulang. Di sisi lain, ia harus membantu Mbah Saydi untuk membalas budi. “Baiklah,” si pendaki menjawab dengan lantang.” Aku siap membantunya,” lanjutnya.

***

Hujan pada Februari kerap turun di Kabupaten Situbondo. Bagi sebagian orang, hujan adalah anugerah, kehadirannya ditunggu-tunggu mungkin bagi petani atau orang-orang yang sedang patah hati. Sebagian besar pula menjadi tempat untuk menaruh kekesalan, ketika membasahi pakaian pengendara sepeda yang tidak membawa mantel meskipun tahu musim hujan. Hujan menghambat pengendara supaya bernaung sejenak atau menggagalkan rencana-rencana.

Hujan Februari tidak disertai petir. Hujan yang kerap turun itu sudah cukup membuat ribuan rumah tergenang banjir, sungai tak mampu menampung debit air yang tinggi, hewan ternah hanyut, jalur pantura macet akibat air tergenang, pohon-pohon tumbang, jembatan-jembatan hancur, orang-orang khawatir, ada juga yang waspada dan banyak orang ketakutan,

Tentu saja bencana banjir itu sudah banyak diberitakan, media cetak, media online dan konten-konten di media sosial. Dan banyak penduduk turun tangan untuk membantu, mulai dari aktivis, para pejabat, komunitas dan relawan lainnya termasuk Mas Rio ikut menggalang dan meskipun belum dilantik menjadi Bupati. Semua warga kompak membangun posko kesehatan, posko keamanan, penanggulangan bencana, penggalangan dana. Bantuan-bantuan pun bertadatangan atas nama kemanusian. Berita di era digital cepat menyebar. Peristiwa itu ditaksir mengalami kerugian sekitar 150 juta lebih.

Media koran lokal itu lagi-lagi kalah cepat, kalah pamor, kalah viral dengan media digital baik dalam bentuk berita maupun video. Meskipun terlambat ia tetap menyajikan bencana itu dengan mendalam: tentang hutan yang banyak ditebang, pohon yang terbawa air sungai hingga tidak dianggarkannya dana bencana. Selain banjir, media koran lokal itu masih rutin memberitakan seorang lelaki yang hilang di jalur pendakian Gunung Ringgit, konsisten mencari informasi dari berbagai sumber baik tim SAR, relawan, keluarga hingga warga di sekitar lerang gunung.

***

Pertengahan Maret, malam itu, terdengar suara ledakan berulang-ulang namun berirama. Para pengendara di jalan-jalan di sekitaran kota berhenti sejenak, orang-orang keluar rumah mencari tahu dari mana suara itu berasal. Banyak warga Situbondo menyaksikan kilatan petir berwarna-warni, cahayanya bertahan lebih lama, kadang berkedip-kedip seperti disko. Percikannya seperti kembang api, kadang berbentuk bunga, ukiran, kadang tidak beraturan. Suara kilatannya mendayu-dayu, seperti suara musik penuh dengan melodi.

Banyak penduduk yang merekam peristiwa itu dengan ponselnya, ada juga yang memotret penuh kekaguman.

Aku kira ini kembang api.

Suaranya seperti mirip lagu.

Indah banget.

Ini bukan petir biasa

Kejadian apa ini?

Fenomena malam itu begitu cepat tersebar melalui berbagai video unggahan di berbagai media sosial. Dan tentu lebih cepat mendapat tanggapan. Sementara media koran lokal sama sekali tidak memberitakan peristiwa malam itu. Media koran lokal yang hampir redup itu menyajikan kabar lelaki yang berhasil ditemukan dan akan mengabarkan cerita berseri untuk beberapa hari tentang “Kebun Petir.” []


*Pernah dimuat di Radar Banyuwangi edisi 2 Agustus 2025

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak