Ancak
Agung merupakan ritual keagamaan berbasis lokalitas yang pertama
kali dilaksanakan pada tahun 2011 oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo bersama
SKPD serta diikuti seluruh masyarakat Situbondo secara terbuka. Ancakan ini
merupakan tradisi yang telah ada di tengah masyarakat sejak zaman dahulu
sebagai bentuk peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Awalnya, tradisi
ini merupakan gagasan warga agar menjadi agenda tahunan. Gagasan tersebut
kemudian ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo karena memiliki
tujuan yang baik dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi masyarakat
Situbondo.
Ancak
Agung digagas oleh pemerintah sebagai perwujudan slogan Bumi Salawat Nariyah. Peringatan
Maulid Nabi ini juga mendapat bimbingan dan tuntunan KH. Sufyan Miftahul Arifin
sebelum beliau wafat. Harapannya tidak hanya memperoleh kemakmuran di dunia,
tetapi juga di akhirat.
Menurut
Dadang Wigiarto, membangun bangsa yang besar tidak cukup hanya mengandalkan
orang-orang pintar yang duduk di pemerintahan. Bangsa juga harus meneladani
kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, niat membangun bangsa untuk
melindungi, menyejahterakan, dan memakmurkan masyarakat memiliki makna yang
hakiki, seiring dengan pertolongan dan rida Allah SWT.
Ancak Agung
menggunakan bahan-bahan yang berasal dari budaya setempat, yaitu nasi lemak,
nasi kuning beserta lauk-pauknya, yang dihiasi atribut janur kuning, aneka
sayur, buah-buahan, serta berbagai jenis makanan lainnya. Semua bahan tersebut
disusun menjadi bentuk raksasa yang indah dengan tinggi antara 1 hingga 3
meter.
Ancak
Agung diarak setelah azan Isya menggunakan kendaraan pikap, bahkan ada pula
yang dipikul. Titik keberangkatan dari tahun ke tahun berbeda, disesuaikan
dengan kondisi dan jumlah peserta. Sepanjang perjalanan, kegiatan ini dihiasi
aneka lampu warna-warni, iringan seni musik religi, serta pertunjukan kembang
api. Arak-arakan kemudian berakhir di alun-alun kota. Seluruh ancak dikumpulkan
dan didoakan bersama melalui pembacaan selawat Nabi serta ceramah agama.
Persiapan
Ancak Agung diawali dengan rapat yang melibatkan perwakilan dinas, kepala desa,
dan instansi terkait. Pemerintah turut memberikan fasilitasi, meskipun sebagian
peserta juga menggunakan dana pribadi maupun dana kelompok dari organisasi
masyarakat. Setelah itu, seluruh peserta mempersiapkan ancak dengan kreasi
masing-masing.
Tradisi
ini dari tahun ke tahun terus berkembang. Pemerintah Kabupaten Situbondo terus
memperkuat pelaksanaan Ancak Agung karena tradisi ini mampu membangun dan memperkokoh
nilai-nilai spiritual dalam pelaksanaan pembangunan.
Acara
ini mampu mengkristalkan berbagai potensi daerah sehingga sangat layak
dijadikan sebagai objek wisata budaya bagi masyarakat Situbondo. Masyarakat
seolah-olah ikut memiliki acara tersebut. Dengan demikian, tradisi ini mampu
menghadirkan pembaruan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat
sekaligus memperkuat kemakmuran agama.
Kini
Pemerintah Kabupaten Situbondo bersama masyarakat terus menguatkan tradisi
tahunan ini agar semakin semarak, meriah, dan bergairah dalam memperingati
kelahiran Sang Nabi. Selain itu, tradisi ini juga mampu mempererat tali
silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat Situbondo. Oleh karena itu,
Ancak Agung menjadi tradisi sekaligus daya tarik wisata yang patut dilestarikan
dengan harapan dapat memperkokoh keimanan dan keislaman.
Dengan
respons yang sangat baik dari masyarakat Situbondo, pelaksanaan Tradisi Ancak
Agung selalu lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat
dari semakin banyaknya peserta serta bertambahnya rangkaian acara, seperti
pawai ancak, parade hadrah, pengajian akbar, pameran produk masyarakat, lomba
musik Islami, fashion along street, dan
ditutup dengan pertunjukan musik religi di Alun-Alun Situbondo. Ribuan warga
berbondong-bondong mengikuti sekaligus menyaksikan seluruh rangkaian kegiatan
tersebut.
Tradisi
Ancak Agung terus dipertahankan karena melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Mereka berbaur menjadi satu dalam mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi
ini sangat sesuai dengan karakteristik masyarakat Kota Santri Situbondo serta
mampu mengharumkan nama Kabupaten Situbondo di tingkat regional maupun
nasional. Dengan demikian, Situbondo tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri,
tetapi juga sebagai daerah yang memiliki nilai-nilai budaya dan keislaman yang
patut dijadikan rujukan dalam menggali tradisi Islam.
Kegiatan
yang bernilai positif ini perlu terus dilestarikan bersama sebagai budaya
sekaligus aset Kabupaten Situbondo. Dengan demikian, tradisi ini diharapkan
mampu melahirkan generasi santri yang membanggakan serta memperkuat identitas
Kabupaten Situbondo. []
Situbondo, 22 Oktober 2015
