Cium



SEJAK anak pertama lahir, Azkara, aku sering menciumnya, begitu pula istriku. Aroma bayi memang menyenangkan. Sampai usia tujuh bulan, Azkara mempunyai aroma khas, mulai dari badan, baju, hingga bantalnya. Apalagi setelah mandi, ditambah aroma minyak telon. Emmm.

Kalaupun Azkara belum mandi, aku dan istri tetap sering menciumnya. Meskipun kadang agak kecut, aromanya tetap enak. Kata istri, kalau sudah besar nanti, dia tidak akan mau dicium. Mumpung masih bayi. Tak heran jika istri menciumi Azkara berkali-kali sepanjang hari, disertai bunyi kecupan, muaachhh.

Suatu pagi, aku hendak berangkat kerja. Istri duduk di ruang tamu sembari menggendong Azkara di pangkuannya. Gemas. Aku pun ingin mencium Azkara sebelum berangkat. “Sayang Azkara dulu,” sembari aba-aba membungku.

Tapi entahlah, kecupanku malah mendarat di pipi istriku. Ia tersenyum, lalu berkata, "Salah sasaran."

Aku hanya tersenyum.  []

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama