Mendadak hujan turun deras, gemuruhnya seperti letupan
kesal, rintiknya menerpa atap, mencari celah di lubang kehilangan.
Mestinya
dini hari ini terasa sunyi, sesekali hanya terdengar suara kambing, sapi, atau
ayam milik tetangga. Tapi suara hujan mengambil alih semuanya.
Tok,
tok, tok.
Terdengar
ketukan di jendela.
Aku
melirik jam dinding, beberapa menit lagi pukul dua. Aku berhenti dari aktivitas
di layar gawai, menurunkan kaki yang sejak tadi berselonjor di atas meja
komputer.
“Siapa?”
“Aku.”
“Ya,
siapa?”
“Masak
gak ingat dengan suaraku, sih?”
Aku
langsung beranjak ke jendela dan membukanya. Suara hujan semakin keras. Gerimis
halus yang dibawa angin sedikit menerpa wajahku.
“Loh,
Aela, ngapain ke sini?”
“Memangnya
tidak boleh? Ayo pegangin, aku mau lewat sini,” pintanya. “Aku tahu kalau jam
segini kamu pasti belum tidur.”
Aku
hanya tersenyum padanya.
Ia
sesosok makhluk yang terbuat dari air hujan. Tubuhnya bening seperti Wade
Ripple dalam film Elemental: Forces of Nature. Ia mengenakan busana
perpaduan kain polos warna cokelat dan batik marongghi. Matanya berkilau
seperti ada titik embun. Aku menarik tangannya yang lembut seperti jelly. Ia
pun menyerahkan beberapa bungkus bawaannya. Setiap mampir ke rumah, ia tidak
pernah dengan tangan kosong.
“Silakan
duduk!”
“Terima
kasih.”
Aku
mengenalnya beberapa tahun lalu. Saat itu, jalan menuju rumah tergenang air,
gorong-gorong tersumbat membuat air meluap hingga ke halaman rumahku. Sosok
Hujan terlihat murung, ia terpisah dari teman-temannya yang singgah di desa
lain. Ia merasa sedih atas ucapan orang-orang yang menyalahkannya, katanya.
Aku
mengajaknya ke rumah, barangkali di luar dingin. Tapi aku tidak tahu apakah
sosok seperti dia juga merasakan dingin. Sosok Hujan menolak ajakanku. Mungkin
karena aku orang baru. Ia memilih pergi dari hadapanku.
“Jika di
lain waktu bertemu lagi, mungkin aku bersedia mampir,” katanya.
Begitulah
awal pertemuanku. Di hari-hari berikutnya, aku pun bertemu kembali saat aku
membiarkan air hujan membasahi tubuhku sepulang dari makan malam. Aku sempat
kaget, percikan air hujan tiba-tiba membentuk wujud seperti manusia bening. Ia
mengaku bernama Aela. Kami pun saling kenal dan bertukar cerita. Ia tidak segan
untuk curhat, misalnya bercerita bagaimana buyutnya sering disalahkan oleh
manusia karena hujan menjadi penyebab banjir yang menerpa wilayah tengah
Situbondo, Dam Sluice meluap di tahun 2008. Banjir itu menewaskan
belasan korban jiwa.
Dan dini
hari ini ia masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahku.
“Jika
kamu lapar, di dapur ada mi dan telur,” kataku.
“Masih
belum lapar,” jawabnya. “Jadi kamu masih sendiri di sini?” lanjutnya.
“Ya.”
“Pantas
saja.”
Aku
mengabaikan obrolannya sembari mengalihkan pandangan ke layar gawai yang
kumiringkan, melanjutkan gim kesukaan.
Aela
lebih memilih merapikan meja dengan memindahkan kamera, pena, buku catatan, dan
bungkus makanan di meja komputer. Ia mengambil gelas kopi yang sudah tersisa
ampas dan beranjak ke belakang, mungkin ke tempat cuci piring. Beberapa menit
berlalu, ia kembali dan mengobrol.
“Kamu
harus banyak minum!”
“Males
mau ngisi air galon.”
“Ini
gratis.”
“Air apa
ini?”
“Air
hujan.”
“Wah,
perhatian sekali, kenapa gak jadi kekasihku saja?”
“Mana
ada yang mau sama kamu?”
“Memangnya
kenapa?”
“Kamu
tidak bisa merawat diri. Bau dan jarang mandi. Lihat! Kasur dan meja kerja
berantakan. Dan yang terakhir….”
Ia diam
sejenak.
“Apa
yang terakhir?”
“Kamu
pemalas, suka menunda pekerjaan.”
“Aku
baru tahu kalau aku seperti itu.”
“Dasar.”
“Lah,
terus aku harus gimana?”
“Mana
kutahu. Pikir aja sendiri!”
“Tapi
aku nyaman seperti ini.”
“Terserah.”
***
Aku pun mengambil
sesuatu yang dibawa Aela, sebungkus kenangan tentang kakekku. Suasana kamar
berubah seperti adegan film yang berbentuk seperti hologram. Ia menemukan arsip
ini di perpustakaan, katanya.
Kamarku
seperti ruang bioskop menampilkan Kakekku sewaktu muda yang sedang memelihara
kambing. Kakek basah kuyup, mencari tempat berteduh bersama kambing-kambing. Ia
merasa senang ketika kambingnya banyak terjual seharga Rp200 per ekor. Hari itu
nenek versi muda akan melahirkan ayahku.
Buyut
Aela juga merekam kakek ketika bekerja di sawah, saat sedang menebang tebu
melalui lori untuk dikirim ke PG Olean. Kakek orang yang suka bekerja apa saja,
tidak pemilih demi menghudupi keluarga. Apalagi mengetahui akan punya anak.
“Kamu
masih ingat waktu kanak-kanak sering minta uang sama kakekmu?” kata Aela.
“Ya.
Dari mana kamu tahu?”
“Aku
punya arsipnya, buyutku pernah singgah di halaman kakek-nenekmu. Mereka suka
menanam apa saja di halaman rumah. Mulai dari sirih, jeruk nipis, jahe, pepaya,
terong, jambu, cabai. Dari hasil tanaman kadang ada tetangga yang mau membeli.
Mereka pun menyisihkan uang untukmu.”
Aku
hanya diam tidak merespons.
“Kamu
tahu doa yang sering dipanjatkan oleh kakekmu?”
“Apa?”
“Supaya
menjadi orang yang beruntung, dimudahkan dalam mencari ilmu, dan menjadi orang
yang bermanfaat bagi siapa saja.”
***
Saat ini
aku berusaha biasa saja menerima masa lalu atau cerita-cerita yang dibawa oleh
Aela, sosok hujan yang kuanggap sebagai teman. Awalnya, aku sempat kesal dan
marah saat ia membawa cerita-cerita kedua orang tua. Aela bercerita kalau dia
menemukanku dalam arsip perpustakaan. Aku digendong ibu saat hujan deras. Aku
tidak tahu akan dibawa ke mana, yang jelas ibu menangis. Ketika menginjak
remaja, aku baru tahu, ibu dan ayah tidak bisa hidup bersama dalam satu rumah.
Tapi aku sadar, mungkin Aela dikirim padaku supaya bisa membasuh luka-luka lama
hingga aku tidak merasa apa-apa jika mengingatnya. Aku tidak lagi takut pada
kenangan yang hadir kapan saja.
“Aku
merindukan nasi buk-buk buatan nenek,” kataku pada Aela.
“Seperti
apa makanan itu?”
“Nasi
jagung halus, dengan lauk tahu goreng setengah matang dan ghangan kalentang.
Aku tidak tahu resepnya. Nenek memasak dengan kayu bakar dalam tungku yang
terbuat dari bata. Aku menyebutnya tomang. Kadang nenek menggoreng ikan
asin katambhak. Lalu disempurnakan dengan sambal kacang goreng yang
dikucek, ditambah cabai yang sudah dikukus, garam, gula, terasi. Setiap ke
rumah kakek nenek selalu menawariku makan. Apa kamu bisa membantuku mencari
resep itu?”
“Aku
tidak banyak menyimpan arsip tentang nenekmu saat berada di dapur.”
“Baiklah,
tak apa.”
Sayup
tarhim samar-samar terdengar di sela suara hujan yang mulai pelan. Aela
berpamitan, katanya harus mengunjungi beberapa tempat di wilayah Situbondo. Ia
membuka jendela kemudian menoleh padaku sembari tersenyum.
Aku pun
membalasnya. “Apa kau besok akan ke sini lagi?”
“Mungkin
jarang. Oh ya, aku sudah punya kekasih baru.”
“Emm…,
selamat, ya.”
“Sudah
hampir dua tahun kamu mengurung diri di rumah. Cobalah buka bungkusan yang
warna putih, mumpung masih hangat.”
“Apa itu?”
“Bukalah!
Nanti kamu akan tahu,” katanya sembari menutup jendela dari luar.
Aku
melihat beberapa bungkus yang ia bawa di rak dipan. Aku tidak tahu apa isinya.
Aku membuka bungkusan yang dibawa Aela. Aroma masa lalu menyeruak. Semuanya
menjelma seperti hologram. Sebuah fragmen kisah, terdengar suara serak
tangisan, wajah murung terlihat dari balik jendela. Dilihat dari bunga di
halaman dan gambar di tembok terasa tidak asing. Ya, itu di rumah kos Jl.
Cendrawasih. Sosok di jendela itu adalah teman lama yang dulu pernah saling
bertukar perasaan.
Sementara
suara hujan pun mereda, tergantikan dengan suara sayup menjelang subuh yang
semakin nyaring, iramanya membawaku ke dunia entah di mana. Hujan kedua mulai
turun. Aku menyeka dan bangkit.
Pagi-pagi
ini, meskipun terkantuk, aku segera bersiap, keluar rumah untuk melakukan
sesuatu. []
*) Pernah tayang di Suara
Balumbung Desember 2025
