Proses Cerpen: Pelukis yang Datang dari Mimpi



Ini pertama kali cerpen saya dimuat di basabasi.co. Saya mendapat kabar setelah buka Facebook, Mbak Puspa Seruni mention saya sembari mengucapkan selamat. Mbak Sasti redaktur basabasi pun juga mengabari lewat Instagram. Terima kasih.

Cerpen pertama untuk basabasi tidak lolos kurasi, dikirim pada 9 Desember 2016. Cerpen kedua juga tidak lolos kurasi, dikirim pada 9 Mei 2026. Barulah cerpen ketiga, lolos kurasi, dikirim pada 4 Juli 2026 dan dimuat pada 17 Juli 2026.

Awalnya cerpen ini berjudul “Jendela Kafe” pernah dikirim ke Radar Banyuwangi pada 26 Januari 2025 dan tidak lolos kurasi, akhirnya saya arsipkan dan saya merasa perlu dirombak dan melakukan pengembangan. Cerpen ini bercerita tentang pengunjung kafe yang meramal pemandangan dari jendela kafe. Sore yang indah dengan sungai berwarna cokelat, pohon-pohon hijau, tempat yang asyik menikmati sore dari jendela kafe.

Dan pembuka cerpen Jendela Kafe seperti ini:

Perempuan itu selalu datang setiap Sabtu sore menjelang senja. Ia selalu memesan makanan dan minuman untuk dua orang. Awalnya, aku mengira perempuan itu sedang menunggu seseorang yang akan datang menemaninya, bercengkerama, berbincang apa saja. Tapi ternyata tidak. Ia selalu datang sendiri. Lalu, untuk siapa minuman itu? Ketika pulang, perempuan itu juga selalu memesan makanan untuk dibawa pulang.

Aku pernah menduga bahwa sebelum bekerja di kafe ini, perempuan itu mungkin punya kekasih. Mereka pernah duduk berdua di jendela—tempat favoritnya. Ketika berpisah, ia tetap rutin mengenangnya. Atau barangkali si lelaki pergi meninggalkannya untuk sementara waktu, lalu suatu hari kembali menemuinya. "Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu," mungkin lelaki itu pernah berkata seperti itu.

***

Barulah di awal 2026, saya mulai menemukan akumulasi ide dan pemantik untuk menyelesaikan cerpen dengan pengembangan baru setelah menonton serial anime Netflix “Love Through a Prism”, kemudian ada film “Sadali”. Beberapa cerpen yang turut menjadi pemantik ide seperti Cerpen Sungging Raga, Sepertiga Malam Terakhir, Cerpen Sulung Pamanggih, Tukang Pijat Keliling, Cerpen Titik Kartitiani, Potret Sungai di Sebuah Jendela  dan cerpen-cerpen lainnya.

Sebelum dikirim, cerpen ini saya kirim ke Sasan—nama panggilannya—untuk dimintai pendapat, ia memberi masukan untuk memainkan minimal tiga pancaindra, dan deskripsi lukisan lebih detail sedikit. Dan yang paling penting, ia seorang pelukis, lulusan sarjana seni rupa yang sedang patah hati.

Cerpen “Lelaki yang Datang dari Mimpi” bisa dibaca di laman basabasi.co .

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama