Memasuki bulan Maulid, semasa kecil, saya
merayakannya di langgar atau tempat mengaji. Masa mengaji dimulai pada usia 6
tahun yaitu pada tahun 1996-2005.
Setiap santri membawa makanan masing-masing,
seperti nasi kebuli yang ditaburi gongsengan kelapa parut. Orang-orang di rumah
saya menyebutnya sabur. Kemudian hidangan tersebut dilengkapi dengan aneka
gorengan dan berbagai macam buah-buahan, mulai dari pisang, anggur, apel,
salak, semangka, hingga aneka kue sesuai musimnya.
Makanan yang akan dibawa ditata dengan rapi di atas
nampan. Nampan tersebut kemudian ditutup menggunakan taplak. Setiap sudutnya
diikat hingga seluruh makanan tertutup rapat.
Setelah hidangan siap, semua santri
berbondong-bondong menuju tempat perayaan Maulid. Semua sajian dikumpulkan oleh
petugas. Perayaan ini dipimpin langsung oleh kiai atau ustaz pengasuh dengan
pembacaan Selawat Diba'i yang dilakukan secara bergiliran oleh para santri.
Setelah acara selesai, para santri menerima berkat dalam bungkusan kresek. Yang
paling dinantikan tentu saja aneka buah-buahan yang menjadi bagian dari berkat
tersebut sehingga semua santri merasa gembira.
Selain perayaan di langgar, sebagian warga yang
mampu juga biasa melaksanakan perayaan sendiri di rumah. Mereka mengundang
warga sekitar, termasuk ustaz atau kiai (jang-onhjangan), untuk mengikuti
perayaan Maulid. Biasanya acara ini juga diisi dengan pembacaan Selawat Diba'i.
Setelah acara selesai, setiap tamu undangan mendapat berkat yang berisi nasi
kebuli dan aneka macam buah-buahan.
Perayaan Maulid di Situbondo juga dilaksanakan di
madrasah diniyah, pondok pesantren, panti asuhan Islam, dan lembaga pendidikan
Islam lainnya. Sebelum perayaan biasanya diadakan berbagai perlombaan, seperti
tartil Al-Qur'an, hafalan surat-surat pendek, azan, pidato Islam, dan lain
sebagainya. Pada puncak perayaan juga dilaksanakan pembacaan selawat serta
ceramah agama yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagai
contoh, perayaan seperti ini dilaksanakan di PP. Wali Songo dan PP. Salafiyah
Syafi'iyah Sukorejo.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Situbondo juga
menyelenggarakan Festival Maulid yang dikenal dengan Ancak Agung. Kegiatan ini
berupa pawai berbagai macam ancak yang diikuti oleh instansi pemerintah dan
masyarakat Situbondo, disertai pengajian tentang Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini
semakin meriah dalam tiga tahun terakhir.
Begitulah tradisi atau perayaan Maulid di
Situbondo. Semoga melalui semua kegiatan tersebut kita dapat semakin
memperkokoh keimanan serta memperoleh syafaat dari junjungan kita, Nabi
Muhammad SAW.
