Beberapa waktu yang lalu, menjelang 17 Agustus
1015, saya bersama Komunitas Backpacker Situbondo berkunjung ke Air Terjun
Telempong. Sebanyak dua puluh orang, kami berangkat menggunakan sepeda motor.
Jarak dari Kota Situbondo menuju Desa Telempong sekitar 45 km. Desa Telempong
merupakan salah satu desa di Kecamatan Banyuglugur. Sekitar pukul 11.31 WIB,
kami tiba di Desa Telempong.
Menuju air terjun tidaklah mudah. Kami berjalan
kaki melewati rumah-rumah dan sawah, kemudian menyusuri lereng bukit yang naik
turun dan berbatu, sembari dimanjakan oleh tumbuhan-tumbuhan yang eksotis.
Perjalanan ini cukup membuat napas sedikit tersengal dan tubuh berkeringat.
Hitung-hitung olahraga.
Meskipun matahari sangat terik, sinarnya tidak
mampu menembus pepohonan yang berjejer tinggi di lereng bukit ini. Tak heran
jika suasana pada siang hari masih terasa sejuk. Banyak burung memamerkan suara
merdunya, diiringi gemuruh aliran sungai yang berasal dari air terjun.
Di tengah perjalanan saya juga melihat beberapa
orang sedang mengairi sawahnya yang saat itu ditanami cabai. Ada pula yang
sedang mencari kayu bakar dan memukul padi.
Sesampainya di air terjun, saya melepas lelah
dengan duduk bersandar di bebatuan. Sebagian teman masih berada di belakang, terutama
yang perempuan.
Saya memandangi air terjun. Mungkin inilah salah
satu sumber air yang menghidupi tanaman-tanaman yang saya lewati tadi. Airnya
jernih dan dingin. Tinggi air terjun ini kurang lebih sekitar 50 meter.
Berada di sini rasanya ingin tidur. Apalagi
udaranya begitu sejuk. Di sebelah kanan dan kiri terlihat tebing-tebing batu
yang menjulang tinggi. Sebagian teman ada yang menikmati camilan, ada pula yang
memasak mi instan sambil bersantai.
"Yuk, foto-foto!"
"Ayuk..."
Kami pun mengabadikan momen. Ada yang
berswafoto, berfoto bersama, dan ada pula yang memotret keindahan air terjun.
Di tempat ini saya menjumpai dua jenis fauna,
yaitu:
Capung Jarum. Di kampung saya capung ini
disebut seset jarum.
Tubuhnya berwarna hitam dengan sayap hitam yang dihiasi warna oranye, hijau,
dan merah di bagian tengahnya. Capung ini berterbangan di atas bebatuan di
sekitar air terjun. Saya sempat memotretnya saat hinggap di sebuah batu.
Serangga Air. Hewan ini sekilas mirip
laba-laba, tetapi berkaki enam dan mampu berjalan di atas permukaan air.
Beberapa ekor tampak berjalan maju mundur, mengingatkan saya pada lagu Rina
Nose, Maju Mundur Cantik.
Selain itu, di sana juga terdapat lichen
atau yang lebih dikenal sebagai lumut kerak. Lumut berwarna hijau ini tumbuh
subur di bebatuan sekitar Air Terjun Telempong karena kondisi tempatnya yang
sangat lembap. Konon, lumut kerak juga dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Sekitar dua jam berada di lokasi, kami merasa
puas menikmati keindahan Air Terjun Telempong. Sebelum pulang, kami
mengumpulkan sampah-sampah plastik yang terkumpul hingga memenuhi empat kantong
besar. Kegiatan ini merupakan aktivitas wajib setiap kali kami berkunjung ke
tempat wisata. Seluruh sampah kemudian kami bawa pulang untuk dibuang ke tempat
pembuangan akhir (TPA).

